PERUBAHAN , PENGESAHAN dan PENGUNDANGAN
Perubahan
Perubahan peraturan
perundang-undangan dilakukan dengan cara menyisip atau menambah materi ke dalam
peraturan perundang-undangan atau menghapus atau mengganti sebagian materi
peraturan perundang-undangan. Perubahan peraturan perundang-undangan dapat
dilakukan terhadap seluruh atau sebagian buku, bab, bagian, paragraf, pasal,
dan/atau ayat, kata, frasa, istilah, kalimat, angka, dan/atau tanda baca.
1.Perubahan Peraturan
Perundang-undangan dilakukan dengan:
a. menyisip atau
menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan; atau
b. menghapus atau
mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan.
2.Perubahan Peraturan
Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap:
a. seluruh atau sebagian
buku, bab, bagian, paragraf, pasal, dan/atau ayat; atau
b. kata, frasa, istilah,
kalimat, angka, dan/atau tanda baca.
3.Jika Peraturan
Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan
Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan
Perundang-undangan yang di ubah.
4. Jika dalam Peraturan
Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab, bagian, paragraf, atau
pasal baru, maka bab, bagian, paragraf, atau pasal baru tersebut dicantumkan
pada tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. a. Penyisipan Bab b.
Penyisipan Pasal.
5. Jika dalam 1 (satu)
pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru, penulisan ayat baru
tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan
ditambah dengan huruf kecil a, b, c, yang diletakkan di antara tanda baca
kurung( ).
6. Jika dalam suatu
Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab, bagian,
paragraf, pasal, atau ayat, maka urutan bab, bagian, paragraf, pasal, atau ayat
tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus.
7. Jika suatu perubahan
Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan:
a. sistematika Peraturan
Perundang-undangan berubah;
b. materi Peraturan
Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen); atau
c. esensinya berubah,
Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan
disusun kembali dalam Peraturan Perundangundangan yang baru mengenai masalah
tersebut.
Pengesahan
Untuk Undang-undang, rancangan undang-undang
yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden disampaikan oleh Pimpinan DPR
kepada Presiden untuk disahkan menjadi undang-undang. Untuk peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang, disampaikan oleh Menteri Hukum dan
HAM kepada Presiden melalui Kementerian Sekretariat Negara atau Sekretariat
Kabinet.
Pengesahan Rancangan
Undang-Undang
Rancangan Undang-Undang
yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden disampaikan oleh Pimpinan
DPR kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. Penyampaian Rancangan
Undang-Undang sebagaimana dimaksud, dilakukan dalam jangka waktu paling lama 7
(tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.
Rancangan Undang-Undang
disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang-Undang
tersebut disetujui bersama oleh DPR dan Presiden. Namun apabila Rancangan
Undang-Undang sebagaimana dimaksud, tidak ditandatangani oleh Presiden dalam
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang-Undang
tersebut disetujui bersama, Rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi
Undang-Undang dan wajib diundangkan.
Selanjutnya dalam hal
sahnya suatu Rancangan Undang-Undang yang tidak ditandatangani oleh Presiden
dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan
Undang-Undang tersebut disetujui bersama, maka kalimat pengesahannya berbunyi:
Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kalimat pengesahan yang
berbunyi sebagaimana dimaksud harus dibubuhkan pada halaman terakhir
Undang-Undang sebelum pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.
Dalam setiap Undang-Undang harus dicantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak atas perintah suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan termaksud.
Pengundangan
Pengundangan adalah penempatan peraturan
perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita
Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, Tambahan Lembaran Daerah, atau Berita
Daerah. Tujuan pengundangan adalah agar masyarakat mengetahui isi peraturan
perundang-undangan tersebut dan dapat menjadi acuan kapan suatu peraturan
perundang-undangan mulai berlaku dan mengikat.
Pengundangan peraturan
perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia meliputi:
1. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang;
2. Peraturan Pemerintah;
3. Peraturan Presiden mengenai:
1) pengesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau
badan internasional; dan
2) pernyataan keadaan bahaya.
4. Peraturan Perundang-undangan lain yang menurut
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.
Dalam hal peraturan
perundang-undangan yang ada penjelasannya, maka pengundangannya ditempatkan
dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia.
Pengundangan Peraturan
Perundang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia meliputi peraturan
yang dikeluarkan oleh:
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat;
2. Dewan Perwakilan Rakyat;
3. Mahkamah Agung;
4. Mahkamah Konstitusi; dan
5. Menteri, Kepala Badan, lembaga atau komisi yang setingkat yang dibentuk oleh
undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang.
Comments
Post a Comment